Selasa, 13 Mei 2014

manusia dan budaya



Membentuk Manusia Budaya

    1. pendahuluan                                                                                                                                    Pada dasarnya manusia diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa dengan kedudukan sebagai makhluk individu dan makhluk sosial.  Manusia sebagai makhluk individu mempunyai sifat-sifat individu khas yang berbeda dengan manusia lainnya.  Manusia berbeda dengan manusia lainnya.  Manusia sebagai individu bersifat nyata, yaiut mereka berupaya untuk selaliu merealisasikan kepentingan, kebutuhan, dan potensi pribadi yang dimilikinya.  Hal tersebut akan terus menerus berkembang menyesuaikan dengan perkembangan kehidupan yang dialaminya dan pertumbuhan yang ada pada dirinya.  Setiap manusia senantiasa akan berusaha mengembangkan kemampuan pribadinya guna memenuhi berbagai kebutuhan dan mempertahankan hidupnya. Dan manusia sebagai makhluk sosial, artinya makhluk yang tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain.  Setiap manusia normal memerlukan orang lain dan hidup bersama-sama dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.  Kenyataan ini sesuai dengan pendapat Aristoteles, menyatakan bahwa manusia adalah zoom politicon, yang berarti selain sebagai makhluk individu, manusia juga termasuk dalam makhluk sosial yang harus berinteraksi dengan manusia lain. 

2.                       Pembahasan
1.   Manusia
apa yang kalian ketahui tentang definisi dan pengertian manusia?
menurut pendapat saya sendiri manusia yaitu makhluk yang paling sempurna yang di ciptakan oleh allah swt dari tanah yang mempunyai derajat paling tinggi, mempunyai bentuk yang sempurna di bandingkan makhluk lainnya yang berada di muka bumi dan manusia adalah mahluk yang luar biasa, kita merupakan paduan antara mahluk material dan mahluk spiritual, dinamika manusia tidak tinggal diam karena manusia sebagai dinamika selalu mengaktivisasikan dirinya.

bagaimana pengertian dan definisi manusia menurut para ahli?
NICOLAUS D. & A. SUDIARJA
Manusia adalah bhineka, tetapi tunggal. Bhineka karena ia adalah jasmani dan rohani akan tetapi tunggal karena jasmani dan rohani merupakan satu barang


ABINENO J. I
Manusia adalah "tubuh yang berjiwa" dan bukan "jiwa abadi yang berada atau yang terbungkus dalam tubuh yang fana"

UPANISADS
Manusia adalah kombinasi dari unsur-unsur roh (atman), jiwa, pikiran, dan prana atau badan fisik

SOKRATES
Manusia adalah mahluk hidup berkaki dua yang tidak berbulu dengan kuku datar dan lebar

KEES BERTENS
Manusia adalah suatu mahluk yang terdiri dari 2 unsur yang kesatuannya tidak dinyatakan

I WAYAN WATRA
Manusia adalah mahluk yang dinamis dengan trias dinamikanya, yaitu cipta, rasa dan karsa

OMAR MOHAMMAD AL-TOUMY AL-SYAIBANY
Manusia adalah mahluk yang paling mulia, manusia adalah mahluk yang berfikir, dan manusia adalah mahluk yang memiliki 3 dimensi (badan, akal, dan ruh), manusia dalam pertumbuhannya dipengaruhi faktor keturunan dan lingkungan


ERBE SENTANU
Manusia adalah mahluk sebaik-baiknya ciptaan-Nya. Bahkan bisa dibilang manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna dibandingkan dengan mahluk yang lain


PAULA J. C & JANET W. K
manusia adalah mahluk terbuka, bebas memilih makna dalam situasi, mengemban tanggung jawab atas keputusan yang hidup secara kontinu serta turut menyusun pola berhubungan dan unggul multidimensi dengan berbagai kemungkinan

Manusia dapat di artikan berbeda-beda dan ada beberapa segi yaitu :

secara biologis
secara biologis, manusia dapat di artikan sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin yang berarti "manusia yang tahu"), sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi di mana, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga seringkali dibandingkan dengan ras lain. Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan.

secara rohani
manusia di gambarkan sebagai manusia yang paling sempuran mulai dari bentuk fisik maupun derajat dan dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

sebagai antropologi kebudayaan
manusia dapat di artikan sebagai makhluk yang mempunyai kemampuan untuk membentuk kelompok yang sama-sama saling membutuhkan, setiap manusia pasti merupakan makhluk sosial yang dapat menggunakan alat komunikasi untuk mengungkapkan apa perasaan nya dan juga untuk dapat berorganisasi dengan makhluk sosial lainnya, manusia menciptakan struktur sosial yang kompleks terdiri dari kelompok bekerja sama dan bersaing banyak, dari keluarga ke negara-negara. Interaksi sosial antara manusia telah membentuk berbagai sangat luas nilai-nilai, norma sosial, dan ritual, yang bersama-sama membentuk dasar dari masyarakat manusia. Manusia terkenal karena keinginan mereka untuk memahami dan mempengaruhi lingkungan mereka, berusaha untuk menjelaskan dan memanipulasi fenomena melalui ilmu pengetahuan, filsafat, mitologi, dan agama. Maka terkadang manusia ingin tampil labiha diantara manusia lainnya sehingga hal tersebut lah yang menimbulkan persaingan dan terkadang mengakibatkan manusia mencari keuntungan dengan mengambil jalan pintas.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa manusia merupakan salah satu makhluk biologis yang memiliki sifat-sifat rohani dan berkemampuan untuk berkomunikasi, menyampaikan ekspresi, akal budi, dan juga keinginan untuk bersosialisasi dan berkumpul.

2.   Budaya
budayaan yaitu kompleks yang mencakup nilai pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum dan adat istiadat, dengan kata lain kebudayaan dapat di pelajari oleh manusia, kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.

Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.

Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.

Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.

Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

3. Cara pandang terhadap kebudayaan
3.1 Kebudayaan Sebagai Peradaban
Saat ini, kebanyakan orang memahami gagasan “budaya” yang dikembangkan di Eropa pada abad ke-18 dan awal abad ke-19. Gagasan tentang “budaya” ini merefleksikan adanya ketidakseimbangan antara kekuatan Eropa dan kekuatan daerah-daerah yang dijajahnya. Mereka menganggap ‘kebudayaan’ sebagai “peradaban” sebagai lawan kata dari “alam”. Menurut cara pikir ini, kebudayaan satu dengan kebudayaan lain dapat diperbandingkan; salah satu kebudayaan pasti lebih tinggi dari kebudayaan lainnya.

Pada prakteknya, kata kebudayaan merujuk pada benda-benda dan aktivitas yang “elit” seperti misalnya memakai baju yang berkelas, fine art, atau mendengarkan musik klasik, sementara kata berkebudayaan digunakan untuk menggambarkan orang yang mengetahui, dan mengambil bagian, dari aktivitas-aktivitas di atas. Sebagai contoh, jika seseorang berpendendapat bahwa musik klasik adalah musik yang “berkelas”, elit, dan bercita rasa seni, sementara musik tradisional dianggap sebagai musik yang kampungan dan ketinggalan zaman, maka timbul anggapan bahwa ia adalah orang yang sudah “berkebudayaan”.

Orang yang menggunakan kata “kebudayaan” dengan cara ini tidak percaya ada kebudayaan lain yang eksis; mereka percaya bahwa kebudayaan hanya ada satu dan menjadi tolak ukur norma dan nilai di seluruh dunia. Menurut cara pandang ini, seseorang yang memiliki kebiasaan yang berbeda dengan mereka yang “berkebudayaan” disebut sebagai orang yang “tidak berkebudayaan”; bukan sebagai orang “dari kebudayaan yang lain.” Orang yang “tidak berkebudayaan” dikatakan lebih “alam,” dan para pengamat seringkali mempertahankan elemen dari kebudayaan tingkat tinggi (high culture) untuk menekan pemikiran “manusia alami” (human nature)

Sejak abad ke-18, beberapa kritik sosial telah menerima adanya perbedaan antara berkebudayaan dan tidak berkebudayaan, tetapi perbandingan itu -berkebudayaan dan tidak berkebudayaan- dapat menekan interpretasi perbaikan dan interpretasi pengalaman sebagai perkembangan yang merusak dan “tidak alami” yang mengaburkan dan menyimpangkan sifat dasar manusia. Dalam hal ini, musik tradisional (yang diciptakan oleh masyarakat kelas pekerja) dianggap mengekspresikan “jalan hidup yang alami” (natural way of life), dan musik klasik sebagai suatu kemunduran dan kemerosotan.

Saat ini kebanyak ilmuwan sosial menolak untuk memperbandingkan antara kebudayaan dengan alam dan konsep monadik yang pernah berlaku. Mereka menganggap bahwa kebudayaan yang sebelumnya dianggap “tidak elit” dan “kebudayaan elit” adalah sama – masing-masing masyarakat memiliki kebudayaan yang tidak dapat diperbandingkan. Pengamat sosial membedakan beberapa kebudayaan sebagai kultur populer (popular culture) atau pop kultur, yang berarti barang atau aktivitas yang diproduksi dan dikonsumsi oleh banyak orang.

3.2 Kebudayaan sebagai “sudut pandang umum”
Selama Era Romantis, para cendekiawan di Jerman, khususnya mereka yang peduli terhadap gerakan nasionalisme – seperti misalnya perjuangan nasionalis untuk menyatukan Jerman, dan perjuangan nasionalis dari etnis minoritas melawan Kekaisaran Austria-Hongaria – mengembangkan sebuah gagasan kebudayaan dalam “sudut pandang umum”. Pemikiran ini menganggap suatu budaya dengan budaya lainnya memiliki perbedaan dan kekhasan masing-masing. Karenanya, budaya tidak dapat diperbandingkan. Meskipun begitu, gagasan ini masih mengakui adanya pemisahan antara “berkebudayaan” dengan “tidak berkebudayaan” atau kebudayaan “primitif.”

Pada akhir abad ke-19, para ahli antropologi telah memakai kata kebudayaan dengan definisi yang lebih luas. Bertolak dari teori evolusi, mereka mengasumsikan bahwa setiap manusia tumbuh dan berevolusi bersama, dan dari evolusi itulah tercipta kebudayaan.

Pada tahun 50-an, subkebudayaan – kelompok dengan perilaku yang sedikit berbeda dari kebudayaan induknya – mulai dijadikan subyek penelitian oleh para ahli sosiologi. Pada abad ini pula, terjadi popularisasi ide kebudayaan perusahaan – perbedaan dan bakat dalam konteks pekerja organisasi atau tempat bekerja.

3.3 Kebudayaan sebagai Mekanisme Stabilisasi
Teori-teori yang ada saat ini menganggap bahwa (suatu) kebudayaan adalah sebuah produk dari stabilisasi yang melekat dalam tekanan evolusi menuju kebersamaan dan kesadaran bersama dalam suatu masyarakat, atau biasa disebut dengan tribalisme.

4. Penetrasi kebudayaan
Penetrasi kebudayaan dapat terjadi dengan dua cara:
4.1 Penetrasi damai (penetration pasifique)
Masuknya sebuah kebudayaan dengan jalan damai. Misalnya, masuknya pengaruh kebudayaan Hindu dan Islam ke Indonesia. Penerimaan kedua macam kebudayaan tersebut tidak mengakibatkan konflik, tetapi memperkaya khasanah budaya masyarakat setempat. Pengaruh kedua kebudayaan ini pun tidak mengakibatkan hilangnya unsur-unsur asli budaya masyarakat.

Penyebaran kebudayaan secara damai akan menghasilkan Akulturasi, Asimilasi, atau Sintesis. Akulturasi adalah bersatunya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru tanpa menghilangkan unsur kebudayaan asli. Contohnya, bentuk bangunan Candi Borobudur yang merupakan perpaduan antara kebudayaan asli Indonesia dan kebudayaan India. Asimilasi adalah bercampurnya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru. Sedangkan Sintesis adalah bercampurnya dua kebudayaan yang berakibat pada terbentuknya sebuah kebudayaan baru yang sangat berbeda dengan kebudayaan asli.

4.2 Penetrasi Kekerasan (penetration violante)
Masuknya sebuah kebudayaan dengan cara memaksa dan merusak. Contohnya, masuknya kebudayaan Barat ke Indonesia pada zaman penjajahan disertai dengan kekerasan sehingga menimbulkan goncangan-goncangan yang merusak keseimbangan dalam masyarakat. Wujud budaya dunia barat antara lain adalah budaya dari Belanda yang menjajah selama 350 tahun lamanya. Budaya warisan Belanda masih melekat di Indonesia antara lain pada sistem pemerintahan Indonesia.

manusia dan kebudayaan
secara sederhana hubungan manusia dengan kebudayaan yaitu manusia sebagai perilaku kebudayaan dan kebudayaan merupakan objek pelaksana dari manusia tersebut, namun dalam sosiologi manusia dengan kebudayaan di nilai sebagai dwi tunggal maksud dari dwi tunggal yaitu walaupun keduanya itu berbeda tetapi satu kesatuan, manusia membuat kebudayaan dan kebudayaan itu sendiri yang akan mengatur tata pola dan perilaku manusia contohnya apabila sedang makan di larang untuk berbicara.
dari sisi lain manusia dengan kebudayaan dapat di pandang setara dengan hubungan antara manusia dengan masyarakat yang di sebut dengan dialeksis, proses dialektis di bagi menjadi 3 di antaranya :

1.eksternalisasi yaitu proses dimana manusia mengespresikan dirinya dengan dunianya.
2.obyektivasi yaitu suatu kenyataan yang terpisah oleh manusia dan berhadapan dengan manusia dengan demikian masyarakat akan mebentuk perilaku manusia.
3. internalisasi yaitu dimana masyarakat di sergap oleh kembali manusia, maksudnya yaitu bahwa manusia mempelajari masyarakatnya sendiri agar menjadi pribadi yang baik.

dan apabila manusia itu melupakan bahwa masyakarat adalah ciptaan manusia, manusia itu akan terasingkan ( berger terjemaahan M.Sastrapratedja 1991).
oleh karena itu manusia dan kebudayaan mempunyai kaitan yang sangat erat satu dengan yang lainnya, pada kondisi yang seperti ini, kita tidak bisa mengetahui mana yang duluan muncul, kebudayaan atau manusia



Kamis, 03 April 2014

BAB 2 MENUNBUHKAN BUDAYA LOKAL DALAM PERGURUAN TINGGI

MENUMBUHKAN BUDAYA LOKAL DALAM PERGURUAN TINGGI

      I.            PENDAHULUAN

1.     LATAR BELAKANG

Indonesia mempunyai keanekaragaman budaya yang banyak sekali dari sabang hingga merauke, tapi seiring berkembangnya zaman perlahan budaya indonesiapun mulai luntur oleh budaya asing yang datang ke indonesua secara perlahan, tidak terkecuali para pelajar dan mahasiswa yang larut dalam budaya asing.

2.     RUMUSAN MASALAH
·        apa yang dimaksud dengan  budaya itu?
·        bagaimana cara pelajar dan mahasiswa untuk lebih mencintai budaya lokal dan lingkungan yang ada di sekitar mereka?

3.     TUJUAN  PENULISAN

karena saya ingin menjelaskan betapa banyak budaya di indonesia ini yang patut kita lestarikan dan kita jaga

   II.            PEMBAASAN
           adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.[2]
Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya: Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri."Citra yang memaksa" itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti "individualisme kasar" di Amerika, "keselarasan individu dengan alam" d Jepang dan "kepatuhan kolektif" di Cina. Citra budaya yang brsifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.
            banyak cara kita sebagai para pelajar dan mahasiswa untuk melestarikan budaya lokak yang ada di indonesia, dengan cara mencintai dan mengenali lebih dalam ahwa budaya di indonesia itu sangat banyak sekali, karna di setiap daerh mempunyai masing masing ciri dari kebudayaan tersebut.



III.            PENUTUPAN

4.     KESIMPULAN

            banyak budaya indonesia yang harus kita jaga dan kita lestarikan tapi tidak menutup kemungkinan juga bahwa banyak budaya asing yang masuk ke lingkungan sekitar kita, bahkan tidak dipungkiri bahwa kita juga perlu belajar juga tentang budaya asing tetapi pada batas kewajarannya dan tidak melupakan budaya lokal yang telah kita jaga dan kita lestarikan sampai saat ini.

5.      REFERENSI

http://mantapblogs.blogspot.com/2011/03/definisi-budaya-budaya-adalah-suatu.html








NOVRIANA SEKAR ANINDYA
1KA08

16113570

BAB3 KEBUDAYAAN DAN MASALAH MAKNA HIDUP

KEBUDAYAAN DAN MASALAH MAKNA HIDUP

                               I.            PENDAHULUAN

1.      LATAR BELAKANG
Islam di Indonesia disebut sebagai suatu entitas karena memiliki karakter yang khas yang membedakan Islam di daerah lain, karena perbedaan sejarah dan perbedaan latar belakang geografis dan latar belakang budaya yang dipijaknya. Selain itu, Islam yang datang ke sini juga memiliki strategi dan kesiapan tersendiri antara lain: Pertama, Islam datang dengan mempertimbangkan tradisi, tradisi berseberangan apapun tidak dilawan tetapi mencoba diapresiai kemudian dijadikan sarana pengembangan Islam. Kedua, Islam datang tidak mengusik agama atau kepercayaan apapun, sehingga bisa hidup berdampingan dengan mereka. Ketiga, Islam datang mendinamisir tradisi yang sudah usang, sehingga Islam diterima sebagai tradisi dan diterima sebagai agama. Keempat, Islam menjadi agama yang mentradisi, sehingga orang tidak bisa meninggalkan Islam dalam kehidupan mereka.

2.      RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimana cara Islam masuk ke Indonesia ?
2. Bagaimana hubungan agama Islam dengan budaya lokal ?
3. Apa peran agama menghadapi perubahan nilai ?
4. Apa fungsi agama terhadap perkembangan dan perubahan budaya ?

3.      TUJUAN PENULISAN
Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui dan mengobservasi tentang kebudayaan dan masalah makna hidup.

                            II.            PEMBAHASAN

Pada awalnya Islam masuk ke Indonesia dengan penuh kedamaian dan diterima dengan tangan terbuka, tanpa prasangka sedikitpun. Bersama agama Hindu dan Budha, Islam memperkenalkan civic culture atau budaya bernegara kepada masyarakat di negri ini. Para wali menyebarkan dan memperkenalkan Islam melalui pendekatan budaya, bukan dengan Al Quran di tangan kiri dan pedang di tangan kanan. Melalui alunan gamelan di depan masjid Demak, Sunan Kalijaga mengajar masyarakat kalimah syahadat. Seusai membaca syahadat, para mualaf dipersilahkan memasuki halaman masjid dan menikmati indahnya alunan gamelan. Di Madura, Pangeran Katandur memberi benih jagung dan mengajar masyarakat bertani sambil dilatih membaca kalimah syahadat. Dan ketika panen jagung tiba, masyarakat dibiarkannya merayakan panen dengan lomba lari sapi yang sekarang dikenal dengan karapan sapi.
Para wali di Jawa demikian juga berusaha memperkenalkan Islam melalui jalur tradisi, sehingga mereka perlu mempelajari Kekawian (sastra klasik) yang ada serta berbagai seni pertunjukan, dan dari situ lahir berbagai serat atau kitab. Wayang yang merupakan bagian ritual dan seremonial Agama Hindu yang politeis bisa diubah menjadi sarana dakwah dan pengenalan ajaran monoteis (tauhid). Ini sebuah kreativitas yang tiada tara, sehingga seluruh lapisan masyarakat sejak petani pedagang hingga bangsawan diislamkan melaui jalur ini. Mereka merasa aman dengan hadirnya Islam, karena Islam hadir tanpa mengancam tradisi, budaya, dan posisi mereka.

                       III.            PENUTUPAN

4.     KESIMPULAN

Islam masuk ke Indonesia dengan penuh kedamaian dan diterima dengan tangan terbuka, tanpa prasangka sedikitpun. Bersama agama Hindu dan Budha, Islam memperkenalkan civic culture atau budaya bernegara kepada masyarakat di negri ini. Para wali menyebarkan dan memperkenalkan Islam melalui pendekatan budaya.
Dalam benak sebagian besar orang, agama adalah produk langit dan budaya adalah produk bumi. Agama dengan tegas mengatur hubungan manusia dengan Tuhan dan manusia dengan manusia. Sementara budaya memberi ruang gerak yang longgar, bahkan bebas nilai, kepada manusia untuk senantiasa mengembangkan cipta, rasa, karsa dan karyanya. Tetapi baik agama maupun budaya difahami  (secara umum) memiliki fungsi yang serupa, yakni untuk memanusiakan manusia dan membangun masyarakat yang beradab dan berperikemanusiaan.
Sejalan dengan perkembangan budaya dan pola berpikir masyarakat yang materialistis dan sekularis, maka nilai yang bersumberkan agama belum diupayakan secara optimal. Agama dipandang sebagai salah satu aspek kehidupan yang hanya berkaitan dengan aspek pribadi dan dalam bentuk ritual, karena itu nilai agama hanya menjadi salah satu bagian dari sistem nilai budaya; tidak mendasari nilai budaya secara keseluruhan.
Aktualisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan sekarang ini menjadi sangat penting terutama dalam memberikan isi dan makna kepada nilai, moral, dan norma masyarakat. Apalagi pada masyarakat Indonesia yang sedang dalam masa pancaroba ini. Aktualisasi nilai dilakukan dengan mengartikulasikan nilai-nilai ibadah yang bersifat ritual menjadi aktivitas dan perilaku moral masyarakat sebagai bentuk dari kesalehan social.












5.     REFERENSI
  1.  http://www.awankpoenya.co.cc/2008/11/era-informasi-dan-globalisasi-sebagai_13.html
  2. http://pustaka.bkkbn.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=109&Itemid=93





NOVRIANA SEKAR ANINDYA
16113570 (1KA08)


Selasa, 01 April 2014

BAB1 PERAN AGAMA DALAM MEMBANGUN BUDAYA LOKAL

PERAN AGAMA DALAM MEMBANGUN BUDAYA LOKAL

       I.            PENDAHULUAN

1.      LATAR BELAKANG

Islam di Indonesia disebut sebagai suatu entitas karena memiliki karakter yang khas yang membedakan Islam di daerah lain, karena perbedaan sejarah dan perbedaan latar belakang geografis dan latar belakang budaya yang dipijaknya. Selain itu, Islam yang datang ke sini juga memiliki strategi dan kesiapan tersendiri antara lain: Pertama, Islam datang dengan mempertimbangkan tradisi, tradisi berseberangan apapun tidak dilawan tetapi mencoba diapresiai kemudian dijadikan sarana pengembangan Islam. Kedua, Islam datang tidak mengusik agama atau kepercayaan apapun, sehingga bisa hidup berdampingan dengan mereka. Ketiga, Islam datang mendinamisir tradisi yang sudah usang, sehingga Islam diterima sebagai tradisi dan diterima sebagai agama. Keempat, Islam menjadi agama yang mentradisi, sehingga orang tidak bisa meninggalkan Islam dalam kehidupan mereka.     

2.      RUMUSAN MASALAH
·         Apa peran agama dalam budaya local?
·         Bagaimana peran agama dalam membangun budaya local
·         Apa dampak negative agama dalam membangun budaya local?

3.      TUJUAN PENULISAN
Agar kita bias mengetahui dan memperluas agama kita terhadap budaya local, Agama masuk ke budaya local, mengetahui hubungan Agama dengan budaya lokal, mengetahui kebudayaan Indonesia dan keanekaragaman budaya Indonesia

     II.            PEMBAHASAN

Rakyat Indonesia menjadi hakim / eksekutor dan penentu dalam memilih kebudayaan yang cocok sesuai jati diri / kredibilitas bangsa. Selain itu “Budaya Lokal” yang sangat beranekaragam bentuknya dan majemuk dapat menjadi pedoman dalam melahirkan “Pola Budaya” berdasarkan tradisi dan adat istiadat bangsa. Tidak hanya itu kesatuan bangsa pun diperlukan dalam usaha mempertahankan diri dari datangnya pengaruh buruk proses perubahan kebudayaan. Rasa nasionalisme dalam diri bangsa Indonesia sangat penting dalam menyadarkan bangsa Indonesia akan  makna “Kebudayaan”. Khazanah budaya Indonesia telah menjadi zamrud atau emas dalam proses Integrasi yang membuat bangsa Indonesia memiliki kekayaan tradisi di segala bentuk dan kompleks.
Kemajemukan bangsa Indonesia, dapat disebabkan oleh tiga factor yaitu sebagai berikut :
·         Latar belakang historis,
·         Kondisi geografis, dan
·         Keterbukaan terhadap kebudayaan luar.
Perbedaan tampak dari adanya jenis budaya, adaptasi terhadap lingkungan, dan perkembangan teknologi. Walaupun berbeda Indonesia mempunyai persamaan yaitu pada umumnya berasal dari satu nenek moyang, bahasa yang dipergunakan berasal dari satu rumpun, dan dari sudut Budaya menunjukkan adanya persamaan, yaitu berdasarkan tradisi dan ikatan keluarga.
Keanekaragaman suku bangsa yang bersatu dibawah satu kesatuan Nusantara. Perbedaan (diversitas) melebur menjadi satu jesatuan (Integrasi), kebhinekaan merupakan alat pemersatu (Ika) bangsa dibawah naungan Pancasila, dengan lambang Garuda melalui semboyan Bhineka Tunggal Ika.
Kebudayaan dimiliki masyarakat. Oleh karena itu, Kebudayaan bersifat universal. Kebudayaan berbeda antara satu masyarakat dengan masyarakat lain. Kebudayaan adalah semua hasil pengetahuan dan ciptaan manusia yang diperoleh dari belajar. Sistem pengetahuan manusia yang diperoleh dari belajar terus berkembang dari mulai manusia ada dimuka bumi sampai sekarang. Aspek kebudayaan hilang kalau kurang memberikan manfaat bagi kehidupan manusia akan diganti oleh aspek lain yang lebih berguna. Faktor yang menyebabkan perubahan kebudayaan berasal dari
Dalam ( internal ) dan dari luar (eksternal).
Kebudayaan yang paling mendasar dan menjadi ciri khas bangsa, yaitu kebudayaan daerah atau kebudayaan lokal. Kebudayaan yang menjadi dasar ini adalah alat penilai dan pengukur bagaimana kepribadian bangsa. Di zaman yang selalu mengalami perubahan / dinamis dan menyesuaikan dengan kebutuhan zaman sering terjadi sebuah gejala perubahan kebudayaan dan perubahan social. Dalam mengembangkan kebudayaan bangsa, perlu ditumbuhkan dan dilestarikan nilai budaya yang positif sehingga dapat “Memperkokoh” kebuyaan nasional / bangsa.
II.2.   Kebudayaan nasional diambil dari kebudayaan daerah atau kebudayaan lokal yang bercirikan sebagai berikut :
·         Telah digunakan dalam waktu yang sangat lama,
·         Diambil dari puncak-puncak prestasi budaya daerah,
·         Berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang banyak,
·         Digali dari bumi pertiwi Indonesia,
Hasil perpaduan puncak prestasi budaya daerah dengan penemuan baru selama perjuangan hidup bangsa Indonesia.
Faktor penyebab proses perubahan social budaya yang datang dari masyarakat luar yang dapat ,mempengaruhi kebudayaan lokal antara lain :
1. Proses Akulturasi
2. Proses Westernisasi
3. Proses Globalisasi
Dalam permasalahan ini terdapat point-point penting dari keberadaan peran, fungsi, dan manfaat dari adanya proses interaksi dengan kebudayaan luar atau kebudayaan asing. Hal ini diperlukan agar tidak terjadi konflik social dan dampak buruk dari adanya perubahan social budaya tersebut.
Proses akulturasi, merupakan proses perubahan dimana terjadi penyatuan dua kebudayaan yang berbeda. Akulturasi timbul bila suatu bangsa dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing sedemikian rupa sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah kedalam kebudayaan sendiri.
Proses Westernisasi, yang mempunyai arti pembaratan, pengambilalihan dan peniruan budaya barat. Segala tata cara berkiblat pada dunia barat dan proses pengambilan atau peniruan langsung tanpa ada seleksi atau penyesuaian budaya setempat. Proses Globalisasi, yaitu Proses menyatunya planet bumi kedalam satu kesatuan system atau kaidah yang sama. Globalisasi lahir dari adanya perkembangan IPTEK, khususnya transportasi dan komunikasi.
Dari proses-proses itu banyak terdapat dampak positif dan negatifnya. Hal ini tergantung bagaimana bangsa Indonesia menyikapi unsur kebudayaan yang diserapnya dengan proses seleksi. Ketahanan budaya bangsa turut andil dalam proses Filterisasi atau penyaringan tersebut.
Sebagai bangsa Indonesia yang mempuyai latar belakang yang sangat  menjunjung tinggi kesopanan diharapkan dapat menjadikan Pancasila sebagai pedoman dan Berperilaku. Terutama lingkup kebudayaan, karena akhir-akhir ini banyak terjadi kasus pengklaiman atas budaya bangsa Indonesia oleh negara lain. Hali ini membuat bangsa Indonesia semakin terpuruk pada segi rasa memiki kebudayaan lokal. Pengadopsian budaya yang bersifat mental umumnya lambat, karena memelukan kesiapan dan keterampilan. Gejala lain yang
muncul dari adanya 3 proses perubahan kebudayaan yang  telah dijelaskan tadi adalah :
·         Kegoncangan budaya ( Culture Shock ), Goncangan jiwa atau mental seseorang atau masyarakat sebagai akibat belum adanya kesiapan menerima kebudayaan asing yang datang secara tiba-tiba.
·         Ketimpangan budaya ( Culture Lag ), Ketimpangan salah satu unsur kebudayaan untuk menyesuaikan dari dengan unsur kebudayaan lain yang sudah berubah.
·         Oleh karena itu dalam proses arus interaksi kebudayaan luar diharapkan adanya satu pengokoh bangsa yaitu kebudayaan daerah yang merupakan jati diri kebudayaan nasional.
1. KEKUATAN
Kebudayaan Lokal merupakan potensi bangsa yang tak ternilai harganya. Kebudayaan ini apabila dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya dapat mencapai kemakmuran dan kesejahteraan bangsa Indonesia. Menjadikan kredibilitas bangsa dalam proses Integrasi . Indonesia mempunyai keanekaragaman suku. Setiap suku mempunyai budaya yang tersendiri. Semua itu adalah aset utama bagi pembangunan khususnya dibidang kepariwisataan. Budaya bangsa Indonesia yang dinamis terus berkembang sepanjang sejarah bangsa yang bercirikan kebhinekaan dan keikaan bangsa.
Kebudayaan setiap daerah memiliki nilai yang mencakup konsepsi – konsepsi abstrak tentang apa yang dianggap buruk dan apa yang dianggap baik, sehingga kebudayaan daerah / lokal berfungsi sebagai norma yang dijadikan pedoman dalam bertindak dan berperilaku.
Kebudayaan disetiap daerah menambah daftar akan warisan alam yang bisa dijadikan sebagai  kekayaan Negara dan khazanah akan aset– aset kebudayaan bangsa Indonesia.

2. KELEMAHAN
Bangsa Indonesia sudah terbiasa untuk melakukan sesuatu secara paksa, ditentukan dari pihak atas (didikte), banyak disalahkan tanpa melalui proses berfikir, menimbang, atau mengetahui secara jelas apa kesalahannya hidup penuh keraguan, tekanan, dan tanpa pedoman yang pasti. Semua itu menghasilkan system nilai budaya yang semakin parah bila dibandingkan sebelum revolusi.
Manusia Indonesia mempunyai watak yang lemah atau berkarakter kurang kuat dalam mempertahankan atau memperjuangkan apa yang menjadi miliknya dan keyakinannya. Seperti kebudayaan yang sudah merupakan menjadi haknya. Contohnya batik, reog, tari pendet, angklung, lagu-lagu yang akhir-akhir ini banyak diklaim oleh Malaysia. Masyarakat Indonesia kurang menghargai serta m4njaga kekayaan atau warisan budaya.
Perbedaan yang cukup mendasar antara pedesaan dan perkotaan adalah sikap masyarakat terhadap pembaharuan atau sikap menerima unsur-unsur budaya baru. Perbedaan aspek perilaku ini yang menyebabkan ketidak-kompakan masyarakat Indonesia.
Pola pikir bangsa Indonesia yang dengan mudah menerima budaya bangsa asing/luar tanpa memikirkan apa dampak yang bisa terjadi. Manusia Indonesia senang meniru segala sesuatu yang bersifat penampilan, terutama hal-hal yang datang dari luar negeri. Masih ada terdapat suku bangsa yang terasing ( masyarakat terasing )seperti Baduy dalam yang mempertahankan tradisi warisan dari para leluhurnya.
3. PELUANG
Mengembangkan kebebasan berkreasi dalam berkesenian untuk mencapai sasaran sebagai pemberi inspirasi  bagi kepekaan rasa terhadap totalitas kehidupan dengan tetap mengacu pada etika, moral, astetika, dan agama serta memberikan perlindunagn dan penghargaan terhadap hak cipta dan royalty bagi pelaku seni dan budaya.
Mengembangkan kebudayaan lokal lewat media perfilman Indonesia secara sehat sebagai media massa kreatif yang memuat keberagaman jenis kesenian untuk meningkatkan moralitas agamaserta kecerdasan bangsa, pembentukan opini public yang positif dan peningkatan nilai tambah secara ekonomi.
Dengan keanekaragaman budaya, bangsa Indonesia dapat menjadi bangsa yang maju dalam bidang kebudayaan apabia, setiap kebudayaan daerah dipertahankan keasliannya, tanpa mencampur-adukkan dengan budaya asing
4.TANTANGAN
Bangsa Indonesia harus dapat mengembangkan sikap kritis terhadap nilai-nilai budaya yang kondusif dan serasi untuk menghadapi tantangan pembangunan bangsa di masa depan.
Diharapkan mengembangkan pariwisata melalui pendekatan system yang utuh dan terpadu bersifat interdisipliner dan partisipatoris dengan menggunakan kriteria ekonomi, teknis, argonomis, sosial budaya, hemat energi, melestarikan alam, dan tidak merusak lingkungan.
Bangsa Indonesia harus mempunyai sikap yang selektif dalam menyerap budaya asing, memiliki sikap menghargai kebudayaan lokal agar terciptanya ketahanan bangsa dibidang kebudayaan social. Selalu bangga akan kebudayaan daerah agar kebudayaan bangsa tetap utuh karena setiap kebudayaan lokal digali dari bumi Indonesia pertiwi sehinnga merupakan puncak prestasi budaya lokal dengan penemuan baru yang inovatif dan kreatif atas perjuangan bangsa Indonesia
Menambah lagi akan hasil budaya, menjaga, serta melestarikan selalu kebudayaan lokal yang sangat beranekaragam khasnya di Negara Indonesia ini. Selalu menumbuhkan rasa cinta tanah air dan nasionalisme agar ketahanan budaya bangsa dapat tercapai sesuai dengan harapan.
Kebudayaan lokal merupakan aset penting yang sangat berharga karena fungsi nilai dan manfaatnya menyangkut ruang lingkup sosial, kebudayaan nasional bangsa Indonesia yang bersumber dari warisan budaya leluhur bangsa selain itu budaya nasional yang mengandung nilai-nilai universal termasuk kepercayaan kepada Tuhan YME dalam rangka mendukung terpeliharanya kerukunan hidup bermasyarakat dan membangun peradaban bangsa. Ciri-ciri kebudayaan lokal:
·         Diambil dari puncak-puncak prestasi budaya daerah,
·         Hasil perpaduan puncak prestasi budaya daerah dengan penemuan baru selama perjuangan hidup bangsa Indonesia.
Ketahanan budaya bangsa mempunyai peran penting dalam prose perubahan sosial budaya yang sedang berlangsung. Banyak manfaat budaya lokal dan perannya apabila kita tinjau lebih dalam. Dalam segi kebudayaan peran budaya lokal atau daerah sebagai alat atau pembeda dan pemersatu bangsa karena pada hakekatnya Indonesia merupakan Negara yang sangat majemuk.
Paradigma ini telah membawa bangsa Indonesia ke arus globalisasi. Interaksi dengan budaya asing/luar pun tidak dapat dihindari lagi karena itu semua merupakan satu rangkaian proses tuntutan zaman. Kini kemajuan di segala bidang POLISOSBUD dan HANKAM mengharuskan bangsa Indonesia dapat lebih selektif dalam menyerap budaya asing, memilah dan memilih apa saja yang cocok dengan kepribadian dan jati diri bangsa Indonesia, serta bersikap kritis terhadap nilai-nilai budaya yang kondusif dan serasi untuk menghadapi tantangan pembangunan bangsa di masa depan.

 III.            PENUTUPAN

·         KESIMPULAN

Negara Indonesia melestarikan apresiasi nilai kesenian dan kebudayaan nilai tradisional serta menggalakkan dan memberdayakan sentra-sentra kesenian untuk merangsang berkembangnya  kesenian nasional yang lebih kreatif dan inovatif, sehinngga menimbulkan rasa kebanggan nasional.
Mengembangkan dan membina kebudayaan nasional bangsa Indonesia yang bersumber dari warisan budaya leluhur bangsa, budaya nasional yang mengandung nilai-nilai universal termasuk kepercayaan kepada Tuhan YME dalam rangka mendukung terpeliharanya kerukunan hidup bermasyarakat dan membangun peradaban bangsa
Menjadikan kesenian dan kebudayaan lokal atau tradisional Indonesia sebagai wahana bagi pengembangan pariwisata nasional dan mempromosikannya ke luar negeri secara konsisten sehingga dapat menjadi wahana persahabatan antar bangsa.
Merumusakan nilai-nilai kebudayaan Indonesia, sehingga mampu memberikan rujukan system nilai terhadap totalitas perilaku kehidupan ekonomi, politik, hukum, dankegiatan kebudayaan dalam rangka pengembangan kebudayaan nasional dan peningkatan kualitas berbudaya masyarakat.


·         DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi Abu, 2003, Ilmu Sosial Dasar, Jakarta: PT. Rineka Cipta
Agus Salim, AM. 2004. Ilmu Sosial Budaya Dasar, Makassar: UNM
Sulistyanto, Heri. Cerah SMA untuk Kelas IX semester I, 2002. Jakarta : CV Teguh Karya.
Rangkuti, Fredy. Analisis Swot Teknik Membedah Kasus Bisnis, 1997. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.













NOVRIANA SEKAR ANINDYA
16113570

1KA08