Membentuk Manusia
Budaya
- pendahuluan
Pada dasarnya manusia
diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa dengan kedudukan sebagai makhluk
individu dan makhluk sosial. Manusia sebagai makhluk individu
mempunyai sifat-sifat individu khas yang berbeda dengan manusia lainnya.
Manusia berbeda dengan manusia lainnya. Manusia sebagai
individu bersifat nyata, yaiut mereka berupaya untuk selaliu
merealisasikan kepentingan, kebutuhan, dan potensi pribadi yang
dimilikinya. Hal tersebut akan terus menerus berkembang
menyesuaikan dengan perkembangan kehidupan yang dialaminya dan
pertumbuhan yang ada pada dirinya. Setiap manusia senantiasa akan
berusaha mengembangkan kemampuan pribadinya guna memenuhi berbagai
kebutuhan dan mempertahankan hidupnya. Dan manusia sebagai makhluk
sosial, artinya makhluk yang tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain.
Setiap manusia normal memerlukan orang lain dan hidup bersama-sama
dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kenyataan ini
sesuai dengan pendapat Aristoteles, menyatakan bahwa manusia
adalah zoom politicon, yang berarti selain sebagai makhluk individu,
manusia juga termasuk dalam makhluk sosial yang harus berinteraksi dengan
manusia lain.
2.
Pembahasan
1. Manusia
apa yang kalian ketahui tentang definisi dan pengertian manusia?
menurut pendapat saya sendiri manusia yaitu makhluk yang paling sempurna yang
di ciptakan oleh allah swt dari tanah yang mempunyai derajat paling tinggi,
mempunyai bentuk yang sempurna di bandingkan makhluk lainnya yang berada di
muka bumi dan manusia adalah mahluk yang luar biasa, kita merupakan paduan
antara mahluk material dan mahluk spiritual, dinamika manusia tidak tinggal
diam karena manusia sebagai dinamika selalu mengaktivisasikan dirinya.
bagaimana pengertian dan definisi manusia menurut para ahli?
NICOLAUS D. & A. SUDIARJA
Manusia adalah bhineka, tetapi tunggal. Bhineka karena ia adalah jasmani dan
rohani akan tetapi tunggal karena jasmani dan rohani merupakan satu barang
ABINENO J. I
Manusia adalah "tubuh yang berjiwa" dan bukan "jiwa abadi
yang berada atau yang terbungkus dalam tubuh yang fana"
UPANISADS
Manusia adalah kombinasi dari unsur-unsur roh (atman), jiwa, pikiran, dan
prana atau badan fisik
SOKRATES
Manusia adalah mahluk hidup berkaki dua yang tidak berbulu dengan kuku
datar dan lebar
KEES BERTENS
Manusia adalah suatu mahluk yang terdiri dari 2 unsur yang kesatuannya
tidak dinyatakan
I WAYAN WATRA
Manusia adalah mahluk yang dinamis dengan trias dinamikanya, yaitu cipta,
rasa dan karsa
OMAR MOHAMMAD AL-TOUMY AL-SYAIBANY
Manusia adalah mahluk yang paling mulia, manusia adalah mahluk yang berfikir,
dan manusia adalah mahluk yang memiliki 3 dimensi (badan, akal, dan ruh),
manusia dalam pertumbuhannya dipengaruhi faktor keturunan dan lingkungan
ERBE SENTANU
Manusia adalah mahluk sebaik-baiknya ciptaan-Nya. Bahkan bisa dibilang
manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna dibandingkan dengan mahluk
yang lain
PAULA J. C & JANET W. K
manusia adalah mahluk terbuka, bebas memilih makna dalam situasi, mengemban
tanggung jawab atas keputusan yang hidup secara kontinu serta turut menyusun
pola berhubungan dan unggul multidimensi dengan berbagai kemungkinan
Manusia dapat di artikan berbeda-beda
dan ada beberapa segi yaitu :
secara biologis
secara biologis, manusia dapat di artikan sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin
yang berarti "manusia yang tahu"), sebuah spesies primata dari golongan
mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Dalam hal kerohanian, mereka
dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi di mana, dalam agama,
dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup;
dalam mitos, mereka juga seringkali dibandingkan dengan ras lain. Dalam
antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya,
organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, dan
terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok dan lembaga untuk
dukungan satu sama lain serta pertolongan.
secara rohani
manusia di gambarkan sebagai manusia yang paling sempuran mulai dari bentuk
fisik maupun derajat dan dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
sebagai antropologi kebudayaan
manusia dapat di artikan sebagai makhluk yang mempunyai kemampuan untuk
membentuk kelompok yang sama-sama saling membutuhkan, setiap manusia pasti
merupakan makhluk sosial yang dapat menggunakan alat komunikasi untuk
mengungkapkan apa perasaan nya dan juga untuk dapat berorganisasi dengan
makhluk sosial lainnya, manusia menciptakan struktur sosial yang kompleks
terdiri dari kelompok bekerja sama dan bersaing banyak, dari keluarga ke
negara-negara. Interaksi sosial antara manusia telah membentuk berbagai sangat
luas nilai-nilai, norma sosial, dan ritual, yang bersama-sama membentuk dasar
dari masyarakat manusia. Manusia terkenal karena keinginan mereka untuk
memahami dan mempengaruhi lingkungan mereka, berusaha untuk menjelaskan dan
memanipulasi fenomena melalui ilmu pengetahuan, filsafat, mitologi, dan agama.
Maka terkadang manusia ingin tampil labiha diantara manusia lainnya sehingga
hal tersebut lah yang menimbulkan persaingan dan terkadang mengakibatkan
manusia mencari keuntungan dengan mengambil jalan pintas.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa manusia merupakan salah satu makhluk biologis
yang memiliki sifat-sifat rohani dan berkemampuan untuk berkomunikasi,
menyampaikan ekspresi, akal budi, dan juga keinginan untuk bersosialisasi dan
berkumpul.
2. Budaya
budayaan
yaitu kompleks yang mencakup nilai pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral,
hukum dan adat istiadat, dengan kata lain kebudayaan dapat di pelajari oleh
manusia, kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J.
Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang
terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh
masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.
Herskovits
memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke
generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas
Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial,
ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan
lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang
menjadi ciri khas suatu masyarakat.
Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan
yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian,
moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat
seseorang sebagai anggota masyarakat.
Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman
Soemardi, kebudayaan
adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
Dari berbagai
definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah
sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau
gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan
sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan
adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya,
berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola
perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan
lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan
kehidupan bermasyarakat.
3.
Cara pandang terhadap kebudayaan
3.1 Kebudayaan Sebagai Peradaban
Saat ini, kebanyakan orang memahami gagasan “budaya” yang dikembangkan di Eropa
pada abad ke-18 dan awal abad ke-19. Gagasan tentang “budaya” ini merefleksikan
adanya ketidakseimbangan antara kekuatan Eropa dan kekuatan daerah-daerah yang
dijajahnya. Mereka menganggap ‘kebudayaan’ sebagai “peradaban” sebagai lawan
kata dari “alam”. Menurut cara pikir ini, kebudayaan satu dengan kebudayaan
lain dapat diperbandingkan; salah satu kebudayaan pasti lebih tinggi dari
kebudayaan lainnya.
Pada prakteknya,
kata kebudayaan merujuk pada benda-benda dan aktivitas yang “elit” seperti
misalnya memakai baju yang berkelas, fine art, atau mendengarkan musik klasik,
sementara kata berkebudayaan digunakan untuk menggambarkan orang yang
mengetahui, dan mengambil bagian, dari aktivitas-aktivitas di atas. Sebagai
contoh, jika seseorang berpendendapat bahwa musik klasik adalah musik yang
“berkelas”, elit, dan bercita rasa seni, sementara musik tradisional dianggap
sebagai musik yang kampungan dan ketinggalan zaman, maka timbul anggapan bahwa
ia adalah orang yang sudah “berkebudayaan”.
Orang yang
menggunakan kata “kebudayaan” dengan cara ini tidak percaya ada kebudayaan lain
yang eksis; mereka percaya bahwa kebudayaan hanya ada satu dan menjadi tolak
ukur norma dan nilai di seluruh dunia. Menurut cara pandang ini, seseorang yang
memiliki kebiasaan yang berbeda dengan mereka yang “berkebudayaan” disebut
sebagai orang yang “tidak berkebudayaan”; bukan sebagai orang “dari kebudayaan
yang lain.” Orang yang “tidak berkebudayaan” dikatakan lebih “alam,” dan para
pengamat seringkali mempertahankan elemen dari kebudayaan tingkat tinggi (high
culture) untuk menekan pemikiran “manusia alami” (human nature)
Sejak abad ke-18,
beberapa kritik sosial telah menerima adanya perbedaan antara berkebudayaan dan
tidak berkebudayaan, tetapi perbandingan itu -berkebudayaan dan tidak
berkebudayaan- dapat menekan interpretasi perbaikan dan interpretasi pengalaman
sebagai perkembangan yang merusak dan “tidak alami” yang mengaburkan dan
menyimpangkan sifat dasar manusia. Dalam hal ini, musik tradisional (yang
diciptakan oleh masyarakat kelas pekerja) dianggap mengekspresikan “jalan hidup
yang alami” (natural way of life), dan musik klasik sebagai suatu kemunduran
dan kemerosotan.
Saat ini kebanyak
ilmuwan sosial menolak untuk memperbandingkan antara kebudayaan dengan alam dan
konsep monadik yang pernah berlaku. Mereka menganggap bahwa kebudayaan yang
sebelumnya dianggap “tidak elit” dan “kebudayaan elit” adalah sama –
masing-masing masyarakat memiliki kebudayaan yang tidak dapat diperbandingkan.
Pengamat sosial membedakan beberapa kebudayaan sebagai kultur populer (popular
culture) atau pop kultur, yang berarti barang atau aktivitas yang diproduksi
dan dikonsumsi oleh banyak orang.
3.2
Kebudayaan sebagai “sudut pandang umum”
Selama Era Romantis, para cendekiawan di Jerman, khususnya mereka yang peduli
terhadap gerakan nasionalisme – seperti misalnya perjuangan nasionalis untuk
menyatukan Jerman, dan perjuangan nasionalis dari etnis minoritas melawan
Kekaisaran Austria-Hongaria – mengembangkan sebuah gagasan kebudayaan dalam “sudut
pandang umum”. Pemikiran ini menganggap suatu budaya dengan budaya lainnya
memiliki perbedaan dan kekhasan masing-masing. Karenanya, budaya tidak dapat
diperbandingkan. Meskipun begitu, gagasan ini masih mengakui adanya pemisahan
antara “berkebudayaan” dengan “tidak berkebudayaan” atau kebudayaan “primitif.”
Pada akhir abad
ke-19, para ahli antropologi telah memakai kata kebudayaan dengan definisi yang
lebih luas. Bertolak dari teori evolusi, mereka mengasumsikan bahwa setiap
manusia tumbuh dan berevolusi bersama, dan dari evolusi itulah tercipta
kebudayaan.
Pada
tahun 50-an, subkebudayaan – kelompok dengan perilaku yang sedikit berbeda dari
kebudayaan induknya – mulai dijadikan subyek penelitian oleh para ahli
sosiologi. Pada abad ini pula, terjadi popularisasi ide kebudayaan perusahaan –
perbedaan dan bakat dalam konteks pekerja organisasi atau tempat bekerja.
3.3
Kebudayaan sebagai Mekanisme Stabilisasi
Teori-teori yang ada saat ini menganggap bahwa (suatu) kebudayaan adalah sebuah
produk dari stabilisasi yang melekat dalam tekanan evolusi menuju kebersamaan
dan kesadaran bersama dalam suatu masyarakat, atau biasa disebut dengan
tribalisme.
4.
Penetrasi kebudayaan
Penetrasi kebudayaan dapat terjadi dengan dua cara:
4.1 Penetrasi damai (penetration pasifique)
Masuknya sebuah kebudayaan dengan jalan damai. Misalnya, masuknya pengaruh
kebudayaan Hindu dan Islam ke Indonesia. Penerimaan kedua macam kebudayaan
tersebut tidak mengakibatkan konflik, tetapi memperkaya khasanah budaya
masyarakat setempat. Pengaruh kedua kebudayaan ini pun tidak mengakibatkan
hilangnya unsur-unsur asli budaya masyarakat.
Penyebaran
kebudayaan secara damai akan menghasilkan Akulturasi, Asimilasi, atau Sintesis.
Akulturasi adalah bersatunya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru
tanpa menghilangkan unsur kebudayaan asli. Contohnya, bentuk bangunan Candi
Borobudur yang merupakan perpaduan antara kebudayaan asli Indonesia dan
kebudayaan India. Asimilasi adalah bercampurnya dua kebudayaan sehingga
membentuk kebudayaan baru. Sedangkan Sintesis adalah bercampurnya dua
kebudayaan yang berakibat pada terbentuknya sebuah kebudayaan baru yang sangat
berbeda dengan kebudayaan asli.
4.2 Penetrasi Kekerasan (penetration violante)
Masuknya sebuah kebudayaan dengan cara memaksa dan merusak. Contohnya, masuknya
kebudayaan Barat ke Indonesia pada zaman penjajahan disertai dengan kekerasan
sehingga menimbulkan goncangan-goncangan yang merusak keseimbangan dalam masyarakat.
Wujud budaya dunia barat antara lain adalah budaya dari Belanda yang menjajah
selama 350 tahun lamanya. Budaya warisan Belanda masih melekat di Indonesia
antara lain pada sistem pemerintahan Indonesia.
manusia dan
kebudayaan
secara sederhana
hubungan manusia dengan kebudayaan yaitu manusia sebagai perilaku kebudayaan
dan kebudayaan merupakan objek pelaksana dari manusia tersebut, namun
dalam sosiologi manusia dengan kebudayaan di nilai sebagai dwi tunggal maksud
dari dwi tunggal yaitu walaupun keduanya itu berbeda tetapi satu kesatuan,
manusia membuat kebudayaan dan kebudayaan itu sendiri yang akan mengatur tata
pola dan perilaku manusia contohnya apabila sedang makan di larang untuk
berbicara.
dari sisi lain manusia dengan kebudayaan dapat di pandang setara dengan
hubungan antara manusia dengan masyarakat yang di sebut dengan dialeksis,
proses dialektis di bagi menjadi 3 di antaranya :
1.eksternalisasi yaitu proses dimana manusia mengespresikan dirinya dengan
dunianya.
2.obyektivasi yaitu suatu kenyataan yang terpisah oleh manusia dan berhadapan
dengan manusia dengan demikian masyarakat akan mebentuk perilaku manusia.
3. internalisasi yaitu dimana masyarakat di sergap oleh kembali manusia,
maksudnya yaitu bahwa manusia mempelajari masyarakatnya sendiri agar menjadi
pribadi yang baik.
dan apabila manusia itu melupakan bahwa masyakarat adalah ciptaan manusia,
manusia itu akan terasingkan ( berger terjemaahan M.Sastrapratedja 1991).
oleh karena itu manusia dan kebudayaan mempunyai kaitan yang sangat erat satu
dengan yang lainnya, pada kondisi yang seperti ini, kita tidak bisa mengetahui
mana yang duluan muncul, kebudayaan atau manusia