Kamis, 24 Juli 2014

PRINSIP YANG DIBUTUHKAN UNTUK MEMBANGUN PRIBADI YG KUAT



Prinsip yang dibutuhkan untuk membangun pribadi yang kuat

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Kata moral berasal dari bahasa latin Mores. Mores berasal dari kata mos yang berarti kesusilaan, tabiat atau kelakuan. Moral dengan demikian dapat diartikan ajaran kesusilaan. Moralitas berarti hal mengenai kesusilaan.Moralitas adalah sistem nilai tentang bagaimana kita harus hidup secara baik sebagai manusia. Sistem nilai ini terkandung dalam ajaran berbentuk petuahpetuah, nasihat, wejangan, peraturan, dan semacamnya, yang diwariskan secara turun-temurun melalui agama atau kebudayaan tertentu tentang bagaimanamanusia harus hidup secara baik, agar ia benar-benar menjadi manusia yang baik. Moralitas juga memberi manusia aturan atau petunjuk konkret tentang bagaimana ia harus bertindak dalam hidup ini sebagai manusia yang baik dan bagaimana menghindari perilaku-perilaku yang tidak baik. Dengan kata  lain, untuk membangun pribadi yang kuat untuk dasar prinsip moral adalah dengan memiliki prinsip-prinsip yang baik antar sesama umat manusia.

1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan diatas maka masalah yang muncul kemudian adalah:
1.      Apa sajakah prinsip-prinsip dasar moral untuk membangun pribadi yang kuat dan keutamaan moral?
2.      Bagaimana membangun karakter dan nilai-nilai moral dalam diri manusia?

1.3  Tujuan Penulisan
Penulisan ini bertujuan untuk memperoleh pengetahuan baru yang mendasar dan menyeluruh mengenai prinsip-prinsip moral untuk membangun pribadi yang kuat, dan cara membangun karakter dan nilai-nilai moral dalam diri manusia, agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi bagi bangsa dan negara.







BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Prinsip-prinsip Dasar Moral untuk Membangun Pribadi yang Kuat dan Keutamaan Moral
Untuk mengukur tindakan manusia secara moral, tolak ukurnya adalah Prinsip-prinsip Moral Dasar, berikut ini adalah prinsip-prinsip dari moral dasar tersebut :
a.       Prinsip Sikap Baik
Prinsip sikap baik adalah disposisi dan kemauan untuk melihat orang lain sebagai pribadi yang bermartabat.
b.      Prinsip Keadilan
Prinsip keadilan adalah kehendak kuat dan tetap untuk memberi kepada setiap orang apa yang menjadi haknya. Berdasarkan prinsip keadilan setiap yang berada dalam situasi yang sama, HARUS diperlakukan sama.
Contoh : Kecelakaan maut Apriyani dan kecelakaan maut Rasyid Rajasa.

c.       Prinsip Hormat pada Diri Sendiri
Frans Magnis Suseno mengatakan bahwa prinsip hormat pada diri sendiri memiliki dua arti. Yang pertama sebagai tuntutan agar kita tidak memberikan diri diperas, diperbudak. Yang kedua prinsip hormat pada diri sendiri juga merupakan tuntutan moral untuk tidak menelantarkan diri sendiri

Kejujuran
·         Merupakan landasan untuk membangun kepercayaan dengan orang lain
·         Bersikap jujur, bersikap terbuka  dan fair
·         Kejujuran terhadap orang lain diawali dengan kejujuran kepada diri sendiri
·         Kejujuran dapat membawa kedamaian dalam hidup

Otentitas
·         Pribadi yang otentik : pribadi yang didasari oleh kejujuran, yang tampil apa adanya
·         Manusia yang otentik : manusia yang menghayati dan menunjukan diri sesuai dengan keaslinanya
·         Orang yang otentik : orang yang memiliki pendirian tegas, berpegang pada prinsip, meskipun ia harus menanggung kerugian


Kesediaan Untuk Bertanggung Jawab Dan Kemandirian Moral
Kesediaan bertanggung jawab berarti kesediaan seseorang untuk memberi alasan dan menerima semua konsekuensi yang dihasilkan dari apa yang diputuskan dan dilakukannya. Pribadi yang bertanggung jawab akan melakukan sesuatu bukan hanya karena adanya hukum ataupun peraturan , melainkan karena kesadaran pribadi di bahwa sesuatu itu bernilai sehingga wajib dilakukan.
Mandiri secara moral adalah orang yang berani mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan rasional atau persoalan pada situasi konkret. Orang yang memiliki kemandirian moral dan tidak akan mengikuti apa yang dikatakan atau diperbuat orang lain jika dinilai bertentangan dengan prinsip moral yang dimilikinya.

2.2  Membangun Karakter dan Nilai-nilai Moral
Karakter adalah atribut bawaan yang kompleks dari seseorang, yang menentukan moral, aksi dan reaksi secara etika dari seseorang tersebut
Untuk membangun karakter dalalm prinsip moral dan nilai-nilainya dibutuhkan sikap-sikap seperti dibawah ini :
a.       Dapat Dipercaya
·         Bekerja dengan sedikit pengawasan, namun masih membutuhkan pedoman.
·         Jujur, dapat diandalkan, punya etika dalam setiap tindakan.
·         Tidak mencuri, tidak melakukan penyalahgunaan dan penyelewengan atas sumber-sumber daya perusahaan.
·         Tidak berbohong, curang, khianat, manipulasi, exploitasi keuntungan dari orang lain.
b.      Rasa Hormat
·         Menghargai dan menghormati orang lain
·         Menghormati martabat, privasi dan kebebasan orang lain.
·         Menggunakan cara-cara yang baik. Sopan dan santun
·         Mau mendengarkan dan berkomunikasi secara wajar dan terbuka dengan orang lain.
·         Ramah dan koperatif

Hal yang Membentuk Karakter
1.      Faktor keturunan
2.      Pengalaman masa kanak-kanak
3.      Contoh dari orang dewasa  dan remaja
4.      Pengaruh kawan sebaya
5.      Lingkungan fisik dan sosial secara umum
6.      Media komunikasi yang ada disekeliling
7.      Konten pikiran disekolah, komunitas, dsb
8.      Situasi spesifik  dan peran-peran tertentu









BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
Kata moral berasal dari bahasa latin yakni Mores, Mores berasal dari kata mose yang berarti kesusilaan, tabiat, atau kelakuaan. Dengan demikian moral dapat di asumsikan sebagai ajaran kesusilaan. Moralitas berarti hal mengenai kesusilaan. Moral juga berarti ajaran tentang baik dan buruknya perbuatan yang kita lakukan, dari awal katanya dapat disimpulkan bahwa moral mempunyai pengertian yang sama dengan kesusilaan, yang memuat ajaran tentang baik dan buruknya perbuatan, jadi perbuatan itu dinilai dari perbuatan yang baik dan buruk.
Dengan kata lain moralitas memberikan kebebasan kepada manusia mengenai aturan atau petunjuk kongkret tentang bagaimana ia harus bertindak sebagai manusia yang baik serta bagaimana menghindari prilaku yang seharusnya tidak dilakukan.


REFERENSI

Theresa Tanamal’s Prezi. 2013. “Prinsip-Prinsip Dasar Moral dan Keutamaan Moral”. http://prezi.com/7cjrfih00wes/prinsip-prinsip-dasar-moral-dan-keutamaan-moral/ (diunduh tanggal 24 Juli 2014)

Rabu, 23 Juli 2014

pandangan hidup sebagai orientasi dalam bertingkah laku



Pandangan hidup sebagai orientasi dalam bertingkahlaku

Latar Belakang
Secara sederhana IBD (Ilmu Budaya Dasar) adalah pengetahuan yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengcrtian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah dan kebudayaan.
Istilah IBD dikembangkan di Indonesia sebagai pengganti istilah Basic Humanities yang berasal dari istilah bahasa Inggris “The Humanities’. Adapun istilah Humanities itu sendiri berasal dari bahasa Latin Humanus yang bisa diartikan manusiawi, berbudaya dan halus (fefined). Dengan mempelajari The Humanities diandaikan seseorang ‘akan bisa mcnjadi lebih manusiawi, lebih berbudaya dan lebih halus. Secara demikian bisa dikatakan bahwa The Humanities berkaitan dengan masalah nilai-nilai, yaitu nilai-nilai manusia sebagai homo humanus atau manusia berbudaya. Agar. manusia bisa menjadi humanus, mereka harus mempelajari ilmu yaitu The Humanities di samping tidak mehinggalkan tanggung jawabnya yang lain sebagai manusia itu sendiri. Kendatipun demikian, Ilmu Budaya Dasar (atau Basic Humanities) sebagai satu matakuliah tidaklah identik dengan The Humanities (yang disalin ke dalam bahasa Indonesia menjadi: Pengetahuan Budaya).
Pengetahuan Budaya (The Humanities) dibatasi sebagai pe­ngetahuan yang mencakup keahlian cabang ilmu (disiplin) seni dan filsafat. Keahlian ini pun dapat dibagi-bagi lagi ke dalam berbagai bidang kahlian lain, seperti seni sastra, seni tari, seni musik, seni rupa dan lain-lain. Sedang Ilmu Budaya Dasar (Basic Humanities) sebagaimana dikemukakan di atas, adalah usaha yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. Masalah-masalah ini dapat didekati dengan menggunakan pengetahuan budaya (The Humanities), baik secara gabungan berbagai disiplin dalam pengetahuan budaya ataupun dengan menggunakan masing-masing keahlian di dalam pengetahuan budaya (The Humanities). Dengan poerkataan lain, Ilmu Budaya Dasar menggunakan pengertian-pengertian yang berasa! dari ber­bagai bidang pengetahuan budaya untuk mengembangkan wawasan pemikiran dan kepekaan dalam mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan.
Salah satu dasar yang harus dikuasai mahasiswa sebelu membahas dan juga mempelajari materi tentangIBD maka ada materi yang harus dikuasai dan juga dipahami dengan baik. Salah satu materi tersebut adalah nilai budaya, penting diketahui karena dengan memahami nilai budaya ini maka kita akan dapat mengerti hakekat kebudayaan dan dan juga budaya manusia sehingga tetap dapat hidup dan membuat suatu kebudayaan baru. 
masyarakat secara keseluruhan tentang baik buruk, benar salah, patut atau tidak patut.
Kata budaya atau kebudayaan itu sendiri berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Secara lebih rinci, banyak hal-hal yang dapat kita pelajari tentang definisi kebudayaan. Bagaimana cara pandang kita terhadap kebudayaan, serta bagaimana cara untuk menetrasi kebudayaan yang faktanya telah mempengaruhi kebudayaan lain. Jadi kesimpulan dari pengertian kebudayaan adalah hasil karya cipta karsa manusia yang berasal dari alam sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama.
Theodorson dalam Pelly (1994) mengemukakan bahwa nilai merupakan sesuatu yang abstrak, yang dijadikan pedoman serta prinsip – prinsip umum dalam bertindak dan bertingkah laku. Keterikatan orang atau kelompok terhadap nilai menurut Theodorson relatif sangat kuat dan bahkan bersifat emosional. Oleh sebab itu, nilai dapat dilihat sebagai tujuan kehidupan manusia itu sendiri.
Sedangkan yang dimaksud dengan nilai budaya itu sendiri sduah dirmuskan oleh beberapa ahli seperti :


  • Koentjaraningrat
Menurut Koentjaraningrat (1987:85) lain adalah nilai budaya terdiri dari konsepsi – konsepsi  yang  hidup  dalam  alam  fikiran  sebahagian  besar  warga  masyarakat mengenai hal – hal yang mereka anggap amat mulia. Sistem nilai yang ada dalam suatu masyarakat dijadikan orientasi dan rujukan dalam bertindak. Oleh karena itu, nilai budaya yang dimiliki seseorang mempengaruhinya dalam menentukan alternatif, cara – cara, alat – alat, dan tujuan – tujuan pembuatan yang tersedia.
  • Clyde Kluckhohn dlam Pelly
Clyde Kluckhohn dalam Pelly (1994) mendefinisikan nilai budaya sebagai konsepsi umum yang terorganisasi, yang mempengaruhi perilaku yang berhubungan dengan alam, kedudukan manusia dalam alam, hubungan orang dengan orang dan tentang hal – hal yang diingini dan tidak diingini yang mungkin bertalian dengan hubungan orang dengan lingkungan dan sesama manusia.
  • Sumaatmadja dalam Marpaung
Sementara itu Sumaatmadja dalam Marpaung (2000) mengatakan bahwa pada perkembangan,  pengembangan,  penerapan  budaya  dalam  kehidupan,  berkembang pula nilai – nilai yang melekat di masyarakat yang mengatur keserasian, keselarasan, serta keseimbangan. Nilai tersebut dikonsepsikan sebagai nilai budaya.
Selanjutnya, bertitik tolak dari pendapat diatas, maka dapat dikatakan bahwa setiap individu dalam melaksanakan aktifitas vsosialnya selalu berdasarkan serta berpedoman kepada nilai – nilai atau system nilai yang ada dan hidup dalam masyarakat itu sendiri. Artinya nilai – nilai itu sangat banyak mempengaruhi tindakan dan perilaku manusia, baik secara individual, kelompok atau masyarakat secara keseluruhan tentang baik buruk, benar salah, patut atau tidak patut
Suatu nilai apabila sudah membudaya didalam diri seseorang, maka nilai itu akan dijadikan sebagai pedoman atau petunjuk di dalam bertingkahlaku. Hal ini dapat dilihat dalam kehidupan sehari – hari, misalnya budaya gotong royong, budaya malas, dan lain – lain. Jadi, secara universal, nilai itu merupakan pendorong bagi seseorang dalam mencapai tujuan tertentu.
Jadi dapat disimpulkan bahwa nilai budaya adalah suatu bentuk konsepsi umum yang dijadikan pedoman dan petunjuk di dalam bertingkah laku baik secara individual, kelompok atau
Pengertian Tingkah laku 

Tingkah laku manusia ialah sekumpulan tingkah laku yang ditonjolkan oleh manusia dan dipengaruhi oleh budaya, sikap, emosi, nilai, etika hubungan baik, dan genetik. Ia merupakan salah satu faktor yang penting dalam masyarakat manusia. Menurut sudut pandangan humanisme, setiap manusia mempunyai tingkah laku yang berbeda. Tingkah laku manusia dikaji dalam disiplin akademik seperti psikologi, kerja sosial, sosiologi, dan ekonomi. 
Hubungan antara masyarakat dan kebudayaan dan tingkah laku manusia dilihat dari kaca mata disiplin ilmu bahwa jelas, masyarakat merupakan bagian dari kemasyarakatan dimana masyarakat menciptakan sebuah kebudayaan berdasarkan cipta, rasa dan karsa sebuah pemikiran dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat. sedangkan tingkah laku manusia diterapkan didalam sebuah kebudayaan tersebut yang tidak lain dilakukan oleh masyarakat itu sendiri, diterapkan oleh masyarakat atau individu itu sendiri dan menjadi pedoman bagi individu dan masyarakat itu sendiri pula. Sehingga dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa hubungan antara masyarakat, kebudayaan, dan tingkah laku manusia jelas mempunyai keterkaitan yang erat dan saling mempengaruhi karena masing-masing subtansi mempunyai peran dan fungsi serta tidak dapat dipisahkan antara unsur-unsur dan elemen-elemen tersebut.



Selasa, 13 Mei 2014

manusia dan budaya



Membentuk Manusia Budaya

    1. pendahuluan                                                                                                                                    Pada dasarnya manusia diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa dengan kedudukan sebagai makhluk individu dan makhluk sosial.  Manusia sebagai makhluk individu mempunyai sifat-sifat individu khas yang berbeda dengan manusia lainnya.  Manusia berbeda dengan manusia lainnya.  Manusia sebagai individu bersifat nyata, yaiut mereka berupaya untuk selaliu merealisasikan kepentingan, kebutuhan, dan potensi pribadi yang dimilikinya.  Hal tersebut akan terus menerus berkembang menyesuaikan dengan perkembangan kehidupan yang dialaminya dan pertumbuhan yang ada pada dirinya.  Setiap manusia senantiasa akan berusaha mengembangkan kemampuan pribadinya guna memenuhi berbagai kebutuhan dan mempertahankan hidupnya. Dan manusia sebagai makhluk sosial, artinya makhluk yang tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain.  Setiap manusia normal memerlukan orang lain dan hidup bersama-sama dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.  Kenyataan ini sesuai dengan pendapat Aristoteles, menyatakan bahwa manusia adalah zoom politicon, yang berarti selain sebagai makhluk individu, manusia juga termasuk dalam makhluk sosial yang harus berinteraksi dengan manusia lain. 

2.                       Pembahasan
1.   Manusia
apa yang kalian ketahui tentang definisi dan pengertian manusia?
menurut pendapat saya sendiri manusia yaitu makhluk yang paling sempurna yang di ciptakan oleh allah swt dari tanah yang mempunyai derajat paling tinggi, mempunyai bentuk yang sempurna di bandingkan makhluk lainnya yang berada di muka bumi dan manusia adalah mahluk yang luar biasa, kita merupakan paduan antara mahluk material dan mahluk spiritual, dinamika manusia tidak tinggal diam karena manusia sebagai dinamika selalu mengaktivisasikan dirinya.

bagaimana pengertian dan definisi manusia menurut para ahli?
NICOLAUS D. & A. SUDIARJA
Manusia adalah bhineka, tetapi tunggal. Bhineka karena ia adalah jasmani dan rohani akan tetapi tunggal karena jasmani dan rohani merupakan satu barang


ABINENO J. I
Manusia adalah "tubuh yang berjiwa" dan bukan "jiwa abadi yang berada atau yang terbungkus dalam tubuh yang fana"

UPANISADS
Manusia adalah kombinasi dari unsur-unsur roh (atman), jiwa, pikiran, dan prana atau badan fisik

SOKRATES
Manusia adalah mahluk hidup berkaki dua yang tidak berbulu dengan kuku datar dan lebar

KEES BERTENS
Manusia adalah suatu mahluk yang terdiri dari 2 unsur yang kesatuannya tidak dinyatakan

I WAYAN WATRA
Manusia adalah mahluk yang dinamis dengan trias dinamikanya, yaitu cipta, rasa dan karsa

OMAR MOHAMMAD AL-TOUMY AL-SYAIBANY
Manusia adalah mahluk yang paling mulia, manusia adalah mahluk yang berfikir, dan manusia adalah mahluk yang memiliki 3 dimensi (badan, akal, dan ruh), manusia dalam pertumbuhannya dipengaruhi faktor keturunan dan lingkungan


ERBE SENTANU
Manusia adalah mahluk sebaik-baiknya ciptaan-Nya. Bahkan bisa dibilang manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna dibandingkan dengan mahluk yang lain


PAULA J. C & JANET W. K
manusia adalah mahluk terbuka, bebas memilih makna dalam situasi, mengemban tanggung jawab atas keputusan yang hidup secara kontinu serta turut menyusun pola berhubungan dan unggul multidimensi dengan berbagai kemungkinan

Manusia dapat di artikan berbeda-beda dan ada beberapa segi yaitu :

secara biologis
secara biologis, manusia dapat di artikan sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin yang berarti "manusia yang tahu"), sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi di mana, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga seringkali dibandingkan dengan ras lain. Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan.

secara rohani
manusia di gambarkan sebagai manusia yang paling sempuran mulai dari bentuk fisik maupun derajat dan dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

sebagai antropologi kebudayaan
manusia dapat di artikan sebagai makhluk yang mempunyai kemampuan untuk membentuk kelompok yang sama-sama saling membutuhkan, setiap manusia pasti merupakan makhluk sosial yang dapat menggunakan alat komunikasi untuk mengungkapkan apa perasaan nya dan juga untuk dapat berorganisasi dengan makhluk sosial lainnya, manusia menciptakan struktur sosial yang kompleks terdiri dari kelompok bekerja sama dan bersaing banyak, dari keluarga ke negara-negara. Interaksi sosial antara manusia telah membentuk berbagai sangat luas nilai-nilai, norma sosial, dan ritual, yang bersama-sama membentuk dasar dari masyarakat manusia. Manusia terkenal karena keinginan mereka untuk memahami dan mempengaruhi lingkungan mereka, berusaha untuk menjelaskan dan memanipulasi fenomena melalui ilmu pengetahuan, filsafat, mitologi, dan agama. Maka terkadang manusia ingin tampil labiha diantara manusia lainnya sehingga hal tersebut lah yang menimbulkan persaingan dan terkadang mengakibatkan manusia mencari keuntungan dengan mengambil jalan pintas.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa manusia merupakan salah satu makhluk biologis yang memiliki sifat-sifat rohani dan berkemampuan untuk berkomunikasi, menyampaikan ekspresi, akal budi, dan juga keinginan untuk bersosialisasi dan berkumpul.

2.   Budaya
budayaan yaitu kompleks yang mencakup nilai pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum dan adat istiadat, dengan kata lain kebudayaan dapat di pelajari oleh manusia, kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.

Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.

Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.

Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.

Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

3. Cara pandang terhadap kebudayaan
3.1 Kebudayaan Sebagai Peradaban
Saat ini, kebanyakan orang memahami gagasan “budaya” yang dikembangkan di Eropa pada abad ke-18 dan awal abad ke-19. Gagasan tentang “budaya” ini merefleksikan adanya ketidakseimbangan antara kekuatan Eropa dan kekuatan daerah-daerah yang dijajahnya. Mereka menganggap ‘kebudayaan’ sebagai “peradaban” sebagai lawan kata dari “alam”. Menurut cara pikir ini, kebudayaan satu dengan kebudayaan lain dapat diperbandingkan; salah satu kebudayaan pasti lebih tinggi dari kebudayaan lainnya.

Pada prakteknya, kata kebudayaan merujuk pada benda-benda dan aktivitas yang “elit” seperti misalnya memakai baju yang berkelas, fine art, atau mendengarkan musik klasik, sementara kata berkebudayaan digunakan untuk menggambarkan orang yang mengetahui, dan mengambil bagian, dari aktivitas-aktivitas di atas. Sebagai contoh, jika seseorang berpendendapat bahwa musik klasik adalah musik yang “berkelas”, elit, dan bercita rasa seni, sementara musik tradisional dianggap sebagai musik yang kampungan dan ketinggalan zaman, maka timbul anggapan bahwa ia adalah orang yang sudah “berkebudayaan”.

Orang yang menggunakan kata “kebudayaan” dengan cara ini tidak percaya ada kebudayaan lain yang eksis; mereka percaya bahwa kebudayaan hanya ada satu dan menjadi tolak ukur norma dan nilai di seluruh dunia. Menurut cara pandang ini, seseorang yang memiliki kebiasaan yang berbeda dengan mereka yang “berkebudayaan” disebut sebagai orang yang “tidak berkebudayaan”; bukan sebagai orang “dari kebudayaan yang lain.” Orang yang “tidak berkebudayaan” dikatakan lebih “alam,” dan para pengamat seringkali mempertahankan elemen dari kebudayaan tingkat tinggi (high culture) untuk menekan pemikiran “manusia alami” (human nature)

Sejak abad ke-18, beberapa kritik sosial telah menerima adanya perbedaan antara berkebudayaan dan tidak berkebudayaan, tetapi perbandingan itu -berkebudayaan dan tidak berkebudayaan- dapat menekan interpretasi perbaikan dan interpretasi pengalaman sebagai perkembangan yang merusak dan “tidak alami” yang mengaburkan dan menyimpangkan sifat dasar manusia. Dalam hal ini, musik tradisional (yang diciptakan oleh masyarakat kelas pekerja) dianggap mengekspresikan “jalan hidup yang alami” (natural way of life), dan musik klasik sebagai suatu kemunduran dan kemerosotan.

Saat ini kebanyak ilmuwan sosial menolak untuk memperbandingkan antara kebudayaan dengan alam dan konsep monadik yang pernah berlaku. Mereka menganggap bahwa kebudayaan yang sebelumnya dianggap “tidak elit” dan “kebudayaan elit” adalah sama – masing-masing masyarakat memiliki kebudayaan yang tidak dapat diperbandingkan. Pengamat sosial membedakan beberapa kebudayaan sebagai kultur populer (popular culture) atau pop kultur, yang berarti barang atau aktivitas yang diproduksi dan dikonsumsi oleh banyak orang.

3.2 Kebudayaan sebagai “sudut pandang umum”
Selama Era Romantis, para cendekiawan di Jerman, khususnya mereka yang peduli terhadap gerakan nasionalisme – seperti misalnya perjuangan nasionalis untuk menyatukan Jerman, dan perjuangan nasionalis dari etnis minoritas melawan Kekaisaran Austria-Hongaria – mengembangkan sebuah gagasan kebudayaan dalam “sudut pandang umum”. Pemikiran ini menganggap suatu budaya dengan budaya lainnya memiliki perbedaan dan kekhasan masing-masing. Karenanya, budaya tidak dapat diperbandingkan. Meskipun begitu, gagasan ini masih mengakui adanya pemisahan antara “berkebudayaan” dengan “tidak berkebudayaan” atau kebudayaan “primitif.”

Pada akhir abad ke-19, para ahli antropologi telah memakai kata kebudayaan dengan definisi yang lebih luas. Bertolak dari teori evolusi, mereka mengasumsikan bahwa setiap manusia tumbuh dan berevolusi bersama, dan dari evolusi itulah tercipta kebudayaan.

Pada tahun 50-an, subkebudayaan – kelompok dengan perilaku yang sedikit berbeda dari kebudayaan induknya – mulai dijadikan subyek penelitian oleh para ahli sosiologi. Pada abad ini pula, terjadi popularisasi ide kebudayaan perusahaan – perbedaan dan bakat dalam konteks pekerja organisasi atau tempat bekerja.

3.3 Kebudayaan sebagai Mekanisme Stabilisasi
Teori-teori yang ada saat ini menganggap bahwa (suatu) kebudayaan adalah sebuah produk dari stabilisasi yang melekat dalam tekanan evolusi menuju kebersamaan dan kesadaran bersama dalam suatu masyarakat, atau biasa disebut dengan tribalisme.

4. Penetrasi kebudayaan
Penetrasi kebudayaan dapat terjadi dengan dua cara:
4.1 Penetrasi damai (penetration pasifique)
Masuknya sebuah kebudayaan dengan jalan damai. Misalnya, masuknya pengaruh kebudayaan Hindu dan Islam ke Indonesia. Penerimaan kedua macam kebudayaan tersebut tidak mengakibatkan konflik, tetapi memperkaya khasanah budaya masyarakat setempat. Pengaruh kedua kebudayaan ini pun tidak mengakibatkan hilangnya unsur-unsur asli budaya masyarakat.

Penyebaran kebudayaan secara damai akan menghasilkan Akulturasi, Asimilasi, atau Sintesis. Akulturasi adalah bersatunya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru tanpa menghilangkan unsur kebudayaan asli. Contohnya, bentuk bangunan Candi Borobudur yang merupakan perpaduan antara kebudayaan asli Indonesia dan kebudayaan India. Asimilasi adalah bercampurnya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru. Sedangkan Sintesis adalah bercampurnya dua kebudayaan yang berakibat pada terbentuknya sebuah kebudayaan baru yang sangat berbeda dengan kebudayaan asli.

4.2 Penetrasi Kekerasan (penetration violante)
Masuknya sebuah kebudayaan dengan cara memaksa dan merusak. Contohnya, masuknya kebudayaan Barat ke Indonesia pada zaman penjajahan disertai dengan kekerasan sehingga menimbulkan goncangan-goncangan yang merusak keseimbangan dalam masyarakat. Wujud budaya dunia barat antara lain adalah budaya dari Belanda yang menjajah selama 350 tahun lamanya. Budaya warisan Belanda masih melekat di Indonesia antara lain pada sistem pemerintahan Indonesia.

manusia dan kebudayaan
secara sederhana hubungan manusia dengan kebudayaan yaitu manusia sebagai perilaku kebudayaan dan kebudayaan merupakan objek pelaksana dari manusia tersebut, namun dalam sosiologi manusia dengan kebudayaan di nilai sebagai dwi tunggal maksud dari dwi tunggal yaitu walaupun keduanya itu berbeda tetapi satu kesatuan, manusia membuat kebudayaan dan kebudayaan itu sendiri yang akan mengatur tata pola dan perilaku manusia contohnya apabila sedang makan di larang untuk berbicara.
dari sisi lain manusia dengan kebudayaan dapat di pandang setara dengan hubungan antara manusia dengan masyarakat yang di sebut dengan dialeksis, proses dialektis di bagi menjadi 3 di antaranya :

1.eksternalisasi yaitu proses dimana manusia mengespresikan dirinya dengan dunianya.
2.obyektivasi yaitu suatu kenyataan yang terpisah oleh manusia dan berhadapan dengan manusia dengan demikian masyarakat akan mebentuk perilaku manusia.
3. internalisasi yaitu dimana masyarakat di sergap oleh kembali manusia, maksudnya yaitu bahwa manusia mempelajari masyarakatnya sendiri agar menjadi pribadi yang baik.

dan apabila manusia itu melupakan bahwa masyakarat adalah ciptaan manusia, manusia itu akan terasingkan ( berger terjemaahan M.Sastrapratedja 1991).
oleh karena itu manusia dan kebudayaan mempunyai kaitan yang sangat erat satu dengan yang lainnya, pada kondisi yang seperti ini, kita tidak bisa mengetahui mana yang duluan muncul, kebudayaan atau manusia